jlnt casablanca

SDCI: JLNT Casablanca Bukan untuk Kendaraan Roda-Dua

May 25, 2021

JAKARTA – Sejak pandemic Covid-19, olahraga bersepeda jadi sangat diminati di Indonesia, terutama di Jakarta. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pun gerak cepat untuk mengakomodasi hal itu lewat bermacam regulasi yang memanjakan para pesepeda.

Baru-baru ini, Pemprov DKI pun berinisiatif untuk menjadikan Jalan Layang Non Tol (JLNT) Kampung Melayu – Tanah Abang sebagai jalur khusus sepeda pada periode tertentu.

Ide ini pun telah memasuki tahapan uji coba pada akhir pekan lalu (23/5) di jalan yang disebut juga dengan JLNT Casablanca tersebut. Melihat terobosan ini, Training Director Safety Defensive Consultant (SDCI), Sony Susmana, berharap agar kebijakan ini dibekali dengan kajian yang mendalam.

“Kajiannya perlu mempertimbangkan aspek keselamatan, manfaat dan aspek sosial. Aspek kecemburuan sosial perlu jadi pertimbangan karena kebijakan ini berdampak langsung bagi para pengguna kendaraan lain seperti mobil dan sepeda motor,” kata Sony, Senin (24/5).

Soal aspek keselamatan, dia mengungkap bahwa selama ini ruas jalan JLNT Casablanca tersebut tidak diperuntukkan untuk kendaraan roda-dua karena sejumlah pertimbangkan. Salah satunya adalah soal potensi adanya tiupan angin yang cukup besar di jalan layang.

“Hal ini berpotensi mengancam keselamatan para pengendara kendaraan roda-dua (termasuk pesepeda). Karena, di jalan layang kerap timbul crosswind yang bisa membuat kendaraan roda-dua mengalami oleng,” ucapnya.

Oleh sebab itu, dia berharap hal ini benar-benar dipertimbangkan mengingat sepeda merupakan kendaraan yang juga sangat sensitif saat mengalami crossswind.

Di satu sisi, diharapkan jika memang regulasi ini resmi diterapkan, maka Pemprov DKI perlu menyiapkan infrastruktur medis yang memadai di sepanjang ruas jalan tersebut. Sehingga, saat terjadi insiden, pengendara sepeda dapat memperoleh penanganan medis dengan cepat.

Secara umum, ide soal jalur khusus atau karpet merah khusus pesepada ini dimaksudkan agar para pesepeda dapat mengayuh sepeda dengan kecepatan konstan secara aman. Sehingga mereka dapat melakukan aktivitas olaharaga di akhir pekan dengan baik demi menjaga kondisi kesehatan.

Tapi, jika kebijakan ini tak diimbangi dengan kajian yang mendalam, bukan tidak mungkin kebijakan ini justru bisa mengancam keselamatan para pesepeda. Oleh karena itu, dia menyarankan agar mereka dapat melakukan aktivitas di jalur yang selama ini memang sudah ada, bukan menyerobot ruas jalan lain yang memang tak diperuntukkan bagi kendaraan roda-dua dan beroptensi mengancam keselamatan mereka sekaligus merugikan para pengendara lain. ##